Sebelumnya layak saya ucapkan "Turut berbelasungkawa atas korban ledakan di Surabaya".
Hati siapa (orang tua mana) yang tak tersentuh dengan peristiwa tersebut?

 
Dibalik semua itu, ternyata di sekitar kita masih ada tingkah yang -setengah hati -
 
Kenapa coba? Rinciannya begini;
 
Ada orang-orang yang merasa alergi dan ga enak hati jika agama teroris itu disebut-sebut. Katanya Agama tidak mengajarkan begitu, teroris itu tidak beragama, kalaupun beragama mereka sesat, benarkah?...
 
Lalu kenapa sih takut dianggap jadi teroris atau mendukung teroris hanya karena para peneror itu seagama dengan kita?
Kalau kita tidak terlibat enjoy saja kali.
 
Anggap seperti menyikapi banyaknya maling, koruptor, begal, rampok dan sejenisnya; mereka juga banyak yang seagama dengan kita, bahkan lebih rajin beribadah dengan kita juga ada. Dan jika kita tidak melakukan hal yang sama dengan mereka, ya ga usah gusar.
 
Jangan dikira mereka tidak beragama, kalau mereka (peneror-peneror itu) ditanya apakah punya agama, pasti akan jawab beragama dan kemungkinan kita akan diceramahi oleh mereka, sebab mereka merasa lebih paham dari kita. Dan lebih hafal ayat-ayat kitab sucinya. Sebab mereka meyakini bertindak sesuai perintah Agamanya.
 
Jadi kalau perbuatan negatif menurut kita yang dilakukan orang-orang, yang menurutnya atas dasar perintah keyakinannya, anggap saja itu tafsirnya masing-masing. Dan tegas saja kita tolak jika kita tidak setuju dengan mereka.
 
Maka tak perlu risau, alergi, dan tak perlu "merasa" jika musim begini aparat keamanan bertindak hati-hati menjaga wilayahnya, aparat sweeping kesana kemari dan memeriksa segala sesuatu, aparat itu sedang jihad, maka saran saya sebaiknya kita dukung. Jika tindakan aparat perlu dukungan Undang Undang, maka usulkan buatkan UU. Jika Undang-Undangnya ga jadi-jadi ya kita turut desak agar pembuat UU segera menjadikan. Jangan malah sinis dengan langkah-langkah Polisi.
Ikut prihatin saya mendengar ketua Pansus UU teroris yang meminta Kapolri mundur gara-gara mempertanyakan UU itu.
 
Agamanya apa sih teroris itu?
Jawab paling gampang adalah lihat saja KTPnya jika punya. Kan Negara yang KTPnya mencantumkan agama di dunia ini cuma beberapa, misalnya Indonesia dan Israel.
Tetapi jangan punya anggapan ga adil kayak ini "Kalau teroris dan penjahat-penjahat itu jangan dilihat Agamanya, tetapi lihat perbuatannya karena perbuatannya jelek, sedangkan kalau PILKADA lihatlah Agamanya, walaupun jelek perbuatannya yang penting sama dengan kita" (jadi ingat pilkada DKI 😛😝 )
 
Apakah kita perlu malu jika mereka seagama dengan kita?
Balik lagi jawabnya kayak diatas tadi. Anggap seperti menyikapi banyaknya maling, koruptor, begal, rampok dan sejenisnya. Tak perlu malu dan sinis pada orang yang geram dan mengecam teroris. Toh bukan mengecam kita yang seagama dengannya.
 
Kan kalau seiman berarti saudara? Apa pembelaan kita?
Lah kalau jelek masak mau dibela?
Itulah sebabnya kita ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan kita, peradaban kita. Agar citra kita ga ikutan jelek. Menjaga yang terdekat dari pemahaman yang keliru, mengajarkan kepada anak-anak tentang cinta kasih sesama manusia, juga menghargai keberagaman dan keunikan.
 
Sulit memang. Apalagi jika kita setuju keberagaman. Saling mempengaruhi pasti ada. Namun keyakinan akan kekuatan cinta universal pasti akan terwujud. Bahwa dunia mengarah pada persatuan global harus tetap ada.
 
Kita perlu ingat, Tuhan mengutus perwujudannya demi mendidik manusia agar mewujudkan kesatuan. Dari zaman ke zaman visi itu tak berubah. Kelalaian manusia dan peradaban yang terus berkembang dalam periode kurun zaman tertentu disitulah Tuhan menurunkan Utusannya.
 
Jika dahulu "Mencintai tanah air adalah sebagian dari iman", maka kini saatnya "Kemuliaan bukan pada mencintai tanah air, tetapi Kemuliaan terletak pada mencintai sesama manusia".
Sesama manusia ini tak sekedar yang sama warna kulitnya, sama rambutnya dsb. Tetapi yang sama rasnya dengan kita, yaitu ras manusia.
 
spr.