BANYUWANGI

Ingin Ajarannya Dipahami, namun Masih Takut Ekspose

28 Juli 2014 04:30 WIB

BANYUWANGI – Kicauan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter pribadi lalu (24/7) mengenai sikapnya terhadap Baha’i yang akan dijadikan agama resmi dan dilindungi konstitusi ternyata tak membuat para pengikut Baha’i di Banyuwangi menyikapi berlebihan. Di wilayah yang disebut-sebut penganutnya terbanyak di tanah air itu, mereka tetap cenderung ”menutup diri”.

Menurut Mahmud –bukan nama sebenarnya– 50, salah seorang pengikut Baha’i di Banyuwangi, pihaknya tetap melakukan aktivitas seperti biasa tanpa melakukan kegiatan yang menonjol untuk menyambut pernyataan menteri agama tersebut. Itu disebabkan pemahaman masyarakat yang masih kurang memahami Baha’i secara utuh. Ditakutkan, dengan adanya ekspose justru malah membuat kondisi menjadi tidak baik. ’’Kita takut memicu reaksi masyarakat,” ujarnya Minggu (27/7).

Kendati masih bersikap tertutup, mereka juga berupaya untuk memberikan pemahaman kepada umat lain. Misalnya, pihaknya mengirimkan buku mengenai Baha’i kepada pihak sekolah yang akan menjadi tempat anak-anak mereka bersekolah. ’’Buku ini saya berikan kepada kepala sekolah biar mereka memahami,” cetusnya.

Sikap senada ditunjukkan pemeluk Baha’i Tulungagung. ”Baha’i mengajarkan kebaikan dan kejujuran. Saya senang Baha’i akhirnya diakui setelah sekian lama ada di Indonesia,” ungkap Slamet, 61, warga Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, meluapkan kebahagiaannya.

Dikatakan, Baha’i memiliki lembaga perwakilan sendiri, termasuk di Indonesia. Saat ini pemeluk agama Baha’i menunggu informasi resmi dari lembaga tersebut. ”Kami menunggu kabar dari lembaga. Jadi, sementara ini kegiatan Baha’i tetap berjalan lancar, tidak ada aksi apa-apa,” katanya.

Sebenarnya, lanjut Slamet, pemeluk agama Baha’i belum diperbolehkan memberikan konfirmasi apa pun kepada media terkait pengesahan agama Baha’i oleh menteri agama. Semua konfirmasi disarankan langsung ke lembaga Baha’i di Indonesia. ”Jadi, memang semuanya sebenarnya harus melalui lembaga. Namun, intinya, Baha’i tetap mengajarkan kejujuran,” jelasnya saat ditemui di rumahnya. (wen/and/sli/c10/ami)