Jejak Bahai di Indonesia (1) 

Reporter : Ahmad Baiquni | Senin, 18 Agustus 2014 05:46

Merdeka.com - Beberapa waktu lalu tersiar warta ada agama baru di Indonesia. Kabar ini bermula dari pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin lewat akun Twitternya. Dia bilang ada sebuah agama belum dikenal bernama Bahai.
Kicauan ini kemudian ramai diperbincangkan hingga menjadi pemberitaan nasional. Ini lantaran tidak banyak orang tahu apa itu agama Bahai. Bahkan, sepanjang sejarah republik ini, Bahai tidak pernah terdengar. Ini membuat masyarakat menilai Bahai adalah agama baru.

Masyarakat pun terbelah dalam memandang keberadaan Bahai beserta komunitasnya di Indonesia. Ada yang menganggap agama ini merupakan sekte dari agama tertentu. Sebagian menyatakan agama ini sesat.

"Bahai adalah agama independen bersifat universal. Artinya bukan sekte atau aliran dari agama apapun," kata Rahmi Alfiah Nur Alam, penganut Bahai, saat berbincang dengan merdeka.com Kamis pekan lalu di kawasan Senayan, Jakarta.

Secara tegas Rahmi membantah Bahai merupakan aliran dari agama tertentu. Ini berdasarkan pengalamannya sebagai penganut Bahai sejak kecil. Dia besar dari orang tua pemeluk Bahai.

"Tujuannya untuk mewujudkan transformasi rohani manusia dalam kehidupan dan dalam lembaga-lembaga masyarakat," katanya.

Hal itu dibenarkan oleh Rina Tomcek, pemeluk Bahai keturunan China. Dia mengatakan Bahai menghargai ajaran seluruh agama. Tapi Bahai sama sekali bukan penggabungan dari seluruh ajaran agama dunia karena memiliki ajaran, pemuka, tata cara ibadah, serta kitab suci sendiri. "Namun dari prinsip agama Bahai, kami meyakini semua agama dari Tuhan itu membawa satu kebenaran ilahi yang sama," ujarnya.

Warga keturunan Pakistan-Jawa, Sheila Soraya, mengungkapkan Bahai merupakan agama dengan tiga ajaran inti, yakni kesatuan, cinta kasih, dan perdamaian. "Kita percaya Tuhan itu satu, Tuhan Maha Esa," tuturnya. "Semua agama itu benar karena semua sumber ilahinya dari Tuhan Maha Esa. Manusia di dunia ini adalah keluarga besar karena diciptakan oleh Tuhan Maha Esa," ucap pemeluk Bahai berprofesi psikolog ini.

Secara historis, Bahai lahir di Turki, tersebar melalui ajaran seorang pemuka bernama Bahaullah. Agama ini diperkirakan masuk ke Indonesia pada 1885, dibawa oleh dua pedagang asal Timur Tengah, Musthafa Rumi dan Jamal Effendi, melalui jalur Sulawesi, Lombok, Bali, hingga Batavia. "Dari situlah agama Bahai mulai menyebar sedikit demi sedikit," kata Sheila.

Pengikut Bahai tersebar di 28 provinsi di Indonesia. Tetapi belum ada angka pasti berapa jumlah penganut agama ini. "Kita bisa tahu jumlah ketika ada sensus dan KTP kita dimuat apa adanya. Selama ini kan belum bisa hal itu terjadi. Yang kita tahu memang ada ribuan," ujar Sheila.