User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
Rajawali

Prakata

CAHAYA.org - Boleh dibilang, sesuatu yang semua orang punya namun tak semua menyadari. Keberadaannya di dalam jiwa, dan tak nampak di kelima indera.

Sebuah Keyakinan, yang ingin aku ungkapkan demi eksistensi diri bahwa inilah Aku, meski tak ingin bermaksud menunjukkan ke-aku-anku. Keyakinan tentang apa yang aku yakini, berhubungan erat dengan harapan, masa depan dan hidup.

Sebuah Keyakinan, yang semua orang meyakini bahwa ia setara dengan hak hidup, hakiki dan asasi sejak dilahirkan.

Bagaimana mungkin orang, kelompok, perkumpulan, organisasi, atau bahkan negara hendak membatasi dan melarangnya.

Kemustahilan ini terjadi dan masih berlangsung. Di negara yang menyatakan diri paling santun manusiawi, dan yang mengakui asas demokrasi.
Jangan mengira pembatasan terhadap keyakinan yang setara hak hidup ini dapat dilakukan. Tentu kemustahilan ini jelas tidak bisa dipaksakan.

Apa?, dan Siapa?, yang dapat membendung sesuatu yang tak terbatas. Justru cara-cara pembatasan yang dipaksakan menjadikan luapannya melebar kemana-mana.

Begitu yakinnya, hingga kadang orang lupa sedalam apa pengetahuan dan pengertian akan keyakinannya.

Jika aku bertanya sedalam apa keyakinanmu ?

Tak sedikit yang tergagap untuk menjawabnya.

Padahal ini tentang harapan, masa depan dan hidup.

Apalagi jika pertanyaan dilanjutkan 'mengapa meyakininya?'

Yang paling mudah diucapkan dengan menjawab;

karena ini amanat orang tua, sudah dari nenek moyang telah meyakininya, dan sebagian besar orang di tempat kami meyakininya. Karena banyak penganutnya pastilah saya mengikuti ...

(Jawaban baku dari orang-orang yang enggan berpikir)

Manusia memiliki akal. Dengan pemikirannya itulah yang membedakan  dengan ciptaan yang lain. Begitu istimewanya manusia, karena atas dasar Cinta, Tuhan menciptakannya.

Begitu besar Cinta Tuhan kepada manusia hingga Dia tidak akan pernah meninggalkan manusia tanpa bimbingan.

Dari waktu ke waktu Tuhan membimbing manusia melalui UtusanNya, tak akan berhenti!

Karena Tuhan mencintai kejadian manusia, tak akan berakhir, karena akhir adalah awal dari Utusan yang baru.

Yang baru tentu merubah yang diakhiriNya. Melalui bimbingan-bimbingan yang sesuai dengan kemampuan manusia saat Utusan diturunkan.

Jika sudah saatnya, apakah Utusan yang dari waktu ke waktu diturunkan itu harus memiliki Nama yang sama? Bentuk yang sama? Sifat yang sama?

Apakah jika saat kemunculanNya untuk kesekian kalinya, Ia adalah dalam rupa yang semula?

Memaknai dalam dimensi kerohanian tentu diatas segalanya. Karena jelas, ini adalah tanda-tanda rohani.

Bahwa ibarat POHON KETUNGGALAN, saat mulai tumbuh ia akan berproses dari akarnya. Sehingga batang yang kuat akan menghasilkan buah yang sempurna.

Lalu tanda fisiknya seperti apa?

Yang pasti Dia harus dari Ras yang sama. Ras manusia.

Namun tanda dan ciri-ciri mutlak diperlukan, agar manusia yang memiliki otak untuk berfikir dapat mengenali kebenaran dari kesalahan. Identitas yang disampaikan tentu disesuaikan dengan pemahaman manusia saat itu. Agar dapat sepenuhnya dipahami dan dimengerti.

Jika saatnya Beliau telah hadir, 'sebab sudah menjadi perangai manusia (karena cinta yang berlebihan terhadap keyakinannya)', tidak terjebak seperti umat-umat terdahulu, yang selalu menistakan dan menolak Utusan-Utusan baru.

Ini sangat relevan dengan masa kini, dan siapapun meyakini bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk menggambarkan saat yang dijanjikan, saat ini adalah saat 'akhir dan awal'. Semua tanda dan ciri telah diperlihatkan dengan gamblangnya.

Masihkah manusia mencari-cari lagi identitas dengan wujud yang sama persis dengan Utusan Ribuan tahun yang lalu?

Prakata ini akan membawa kepada apa yang aku sebut Keyakinanku