Bersyukur yang tak terhingga, kepada Sang Indah Yang Diberkati, pada perayaan Ridvan 170 Era Baha’i kali ini saya lalui dengan suka cita. Kegembiraan dan kedamaian melingkupi seluruh keluarga, tak ada halangan ataupun rintangan. Saya merasa seperti hidup di negara yang bebas dalam menjalankan / mengekpresikan kehidupan rohani saya. Begitu besarnya rasa syukur ini, karena ini adalah hari yang sangat istimewa buat saya dan keluarga.

Seperti inilah gambaran berharganya hari ini. Saya kutip beberapa kalimat dari LOH RIDWAN yang ditulis oleh Sang Baha’ullah berikut ini;

... Pada hari ini (Hari Raya Ridvan) adalah musim semi ilahi, sehingga segala sesuatu yang diciptakan dapat dihidupkan dan diperbaharui. Hari dimana Jari kebesaran dan kekuasaan telah membuka segel ‘Anggur Perjumpaan Kembali’. Pengumuman ‘Hari Tuhan telah dihembuskan’. Bahwa Wajah yang tersembunyi dari mata manusia telah dijelmakan dalam kebesaran nama Tuhan, Yang Nyata, Pelindung Yang Berkuasa, Yang Berdiri Sendiri. Inilah Hari di mana tak ada sesuatu pun yang dapat dilihat kecuali kegemilangan Cahaya yang bersinar dari Wajah Tuhan Yang Maha Pengasih. Inilah Hari di mana dunia gaib berteriak: “Besarlah rahmat-Ku, wahai bumi karena engkau telah dijadikan injakan kaki Tuhanmu, dan telah dipilih sebagai singgasana-Nya yang maha besar”. Inilah hari di mana setiap benda yang wangi memperoleh anginnya dari bau dari jubah-Ku yang telah mencurahkan wanginya pada seluruh ciptaan. Hari di mana air kehidupan kekal telah mengalir dengan deras dari Kemauan Yang Maha Pengasih ...


Tak henti saya mengagumi ayat-ayat yang tertulis dalam Loh Ridwan ini, sehingga saya tidak tahu dan tak sanggup memilih, kalimat mana yang sebaiknya saya sampaikan disini.  Loh yang panjang dengan ayat-ayat yang sarat akan makna, dan seharusnya satu kesatuan yang tidak bisa sepotong-sepotong dalam memahaminya, maka membaca sendiri, dengan mata kepala sendiri akan lebih baik dilakukan untuk memahami dan memaknai setiap kata dalam Loh Ridwan. Namun begitu tak habisnya hasrat untuk berbagi mendorongku kembali untuk mengutip kalimat berikut:

... di dalam Firdaus ini, dan dari ketinggian-ketinggian bilik-biliknya yang luhur, Bidadari-bidadari Surgawi telah berteriak dan berseru: “Bersukacitalah engkau para penghuni alam-alam yang tinggi, karena atas nama Yang Maha Mulia, jari-jari Dia yakni Kepurbaan Hari-hari sedang menderingkan Lonceng Yang Maha Besar di tengah-tengah inti langit. ...

Tentang hari Ridvan Baha’ullah dalam tulisan lain juga telah bersabda:

“... Sesungguhnya segala sesuatu yang diciptakan telah ditenggelamkan dalam lautan kemurnian pada hari pertama Ridwan, ketika Kami memancarkan ke seluruh ciptaan kegemilangan Nama-nama Kami yang terbaik dan sifat-sifat Kami yang terluhur.” ...

Melihat luarbiasanya hari ini, kembali saya harus ungkapkan rasa syukurku yang tak terhingga, sehingga saat ini saya masih dapat menjalani segala aktifitas kehidupan seperti hidup di negara yang bebas menjalankan / mengepresikan hasrat rohani saya.

Namun semua tahu, diluar apa yang saya alami, secara manusiawi saya sangat prihatin dengan kondisi masyarakat Baha’i di negeri tercinta ini. Pengucilan dan sikap apriori senantiasa terbiasa kami alami. Anak-anak kami harus berlatih survive akan agama dari tekanan dan cibiran lingkungan sekitar bahkan dari sekolah mereka yang seharusnya menjadi tempat perlindungan. Didorong pula oleh pemberitaan-pemberitaan media yang sepihak (Keprihatinan Baha'i di Indonesia, Adakah Tempat bagi Agama Minoritas?) begitu menciderai perasaan dan rasa keadilan kami.

Pemerintah sepertinya menutup mata akan keberadaan kami, bahkan membiarkan perbuatan orang-orangnya menjebloskan ke dalam “Istana pengasingan” selama lima tahun bagi dua sahabat tercinta saya di Lampung beberapa waktu lalu, (2011).

Kejadian yang terus berulang, bahwa wartawan di negeri tercinta ini yang kami harapkan menjadi suara keadilan, telah memilih menggunakan bahasanya sendiri, kadang-kadang malah jauh dari apa yang sebenarnya dalam menyampaikan apa sesungguhnya ajaran Baha’i. Beberapa artikel dan pemberitaan di media massa / internet, membuktikan hal ini (buka search engine pada browser, ketik kata kunci 'baha'i di Indonesia', akan muncul berita negatif yang tak terhitung banyaknya), apa yang kami sampaikan mengenai ajaran ini tidak murni disampaikan, bahkan cenderung provokatif dan memancing emosi pihak lain.

Sumber kami jelas, dan terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi seperti suatu ajaran yang menyimpang. Prinsip ajaran Baha’i jelas, salah satunya adalah “Mencari kebenaran secara bebas”,  maka tidak ada rahasia diantara kita dan sesama.

Melihat hal seperti ini, mestinya saya sedih, tetapi penganut Baha’i adalah orang gembira, bagaimanapun keadaannya. Karena setiap krisis akan diikuti kemenangan, jika mengalami kesedihan adalah lebih memilih untuk memaknai dengan kebahagiaan, melihat sahabat tercinta yang dijebloskan / dimasukkan ke ‘penjara’ karena mengajarkan kebenaran dan rasa cintanya akan pendidikan anak-anak, maka kami memilih mengatakan masuk ‘Istana’.

Prinsip ajaran yang tunduk pada pemerintahan yang sah, membuat kami ‘enggan’ untuk protes kepada pemerintah. Meskipun tak sedikit kebijakannya yang sangat melukai perasaan dan martabat kami sebagai warga negara, seperti pengurusan Kartu Tanda Penduduk, Surat Pernikahan, Akte Kelahiran, sampai sekolah anak-anak yang rata-rata mempunyai prestasi harus terpotong nilainya karena mengikuti pelajaran agama yang tidak dianutnya. Dan jalan yang ditempuh adalah didomplengkan pada agama lain yang diakui keberadaannya oleh pemerintah. Bahkan ironisnya kadang ditentukan oleh penganut mayoritas.

Melihat hal seperti ini, mestinya saya sedih, tetapi penganut Baha’i adalah orang gembira, bagaimanapun keadaannya. Karena setiap krisis akan diikuti kemenangan, jika mengalami kesedihan adalah lebih memilih untuk memaknai dengan kebahagiaan.

Harusnya disampaikan bahwa keberadaan Agama Baha’i sangat jelas, Agama Baha’i masuk ke Indonesia jauh sebelum negeri ini merdeka tahun 1878, di Kerajaan Gowa, Sulawesi. Lalu di era presiden Soekarno, Baha’i dilarang ke organisasiannya yang dianggap tidak sejalan dengan era revolusi saat itu.

Prinsip Baha’i yang tidak bercampur tangan pada politik dianggapnya melawan pemerintah. Karena saat itu gencar-gencarnya konsep Nasional Agama Komunis / Nasakom yang penuh politis sedang di gaung kan presiden Soekarno.

Dalam surat keputusan presiden itu hanya disebutkan alasan umum pelarangan tujuh organisasi, termasuk Baha'i, yaitu ''karena tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia, menghambat penyelesaian revolusi, atau bertentangan dengan cita-cita sosialisme Indonesia."

Akibat dari pelarangan itu, tak sedikit teman-teman tercinta mengalami penderitaan karena mempertahanakan keyakinannya. Seorang yang berpegang teguh hingga kini, saya menyebutnya Bapak Kurdi, ( saya mendedikasikan tulisan ini buat beliau) pernah diberi makanan beracun di dalam penjara di lampung kala itu. Bersyukur hingga kini Bapak Kurdi masih sehat, walaupun bekas siksaan tersisa dan disandangnya sampai hari ini. Semoga di usia tua nya Beliau mendapat berkah luar biasa dari Sang Indah Yang Diberkati.

Sebagian dari mereka dimasukkan penjara hanya karena menerima kiriman buku-buku ajaran Bahai. Begitu represif nya kebijakan pemerintah saat itu, bahkan cap PKI - Partai Komunis Indonesia diberikan kepada penganut Baha’i, sebagai langkah membendung penyebarannya yang begitu cepat di tahun 1960 an.

Trauma mendalam dan ketakutan bahkan dirasakan banyak penganutnya, dan lebih memilih aman dengan bersembunyi / berpindah agama. Penjelasan lain menurut Djohan Effendi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama, pada suatu waktu, adalah karena orang Indonesia sering bersikap apriori terhadap agama baru. Baha'i memang tidaklah populer bagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.

Berlanjut pada saat presiden Abdurahman Wahid, Agama Baha’i dibebaskan, dengan dicabutnya Ketetapan MPR 1962 yang melarang tersebut.  Sehingga pada 21 Maret 2000, hari itu bertepatan dengan perayaan Nau-Ruz, (tahun baru bagi umat Baha'i), ada yang membuat istimewa: kehadiran Presiden Abdurrahman Wahid bersama istri dan anaknya, di rumah salah satu penganut Agama Baha’i di Indonesia. 

Kunjungan Gus Dur, begitu panggilan akrab presiden RI ke-4 itu, sempat mengagetkan tuan rumah. Soalnya, bagian protokol Istana memberitahukan rencana itu ke pihak tuan rumah beberapa jam sebelumnya. ''Betul-betul kejutan," kata Lachman. Selain silaturahmi, Gus Dur mengucapkan selamat tahun baru.

Sikap Gus Dur ini membuat banyak pihak bertanya-tanya. Namun bagi kami ini adalah dukungan moral yang hebat dari seorang pemimpin negeri. Ini merupakan isyarat pengakuan akan eksistensi kami di negeri tercinta ini.

Musim semi ilahi telah datang, saatnya menyambut hari baru dengan semangat baru